Minut, Multiverum.com – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang terus memperkuat posisinya sebagai salah satu dari lima Destinasi Super Prioritas (DSP) Indonesia dengan mengusung konsep regenerative tourism. Konsep ini secara sinergis mengintegrasikan konservasi alam, Wisata Bahari (marine tourism), budaya, serta pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Direktur Pengembangan dan Pariwisata KEK Likupang, Leo Rustandi mengungkapkan, beberapa proyek strategis tengah dalam tahap pengembangan dan ditargetkan berjalan dalam jangka pendek hingga menengah, seperti Wale Residential Villas, yaitu pengembangan hunian eksklusif yang menyatu dengan alam. Ada Permaculture Agro Wisata, yang mengintegrasikan sistem pertanian berkelanjutan dengan pengalaman wisata edukatif, Yacht & Sailing Club, sebagai bagian dari penguatan sektor marine tourism kelas premium, Ekspansi The Pulisan yaitu perluasan fasilitas akomodasi premium untuk memenuhi proyeksi peningkatan jumlah kunjungan, kemudian Community Nexus yang berfungsi sebagai pusat pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
“KEK Likupang tidak hanya membangun destinasi, tetapi juga menciptakan ekosistem pariwisata masa depan yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Melalui pendekatan regenerative tourism, kami memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan selaras dengan pelestarian alam,” terangnya
Menurut pria humoris ini, sebagai bagian dari implementasi konsep tersebut, KEK Likupang menjalin kolaborasi strategis dengan Yayasan Indonesia Biru melalui program Wallace Conservation Likupang (WCL). Inisiatif ini berfokus pada perlindungan keanekaragaman hayati (biodiversity), riset ilmiah, agrowisata, dan pemberdayaan masyarakat lokal.
“Program WCL telah bekerja sama dengan berbagai institusi terkemuka, termasuk Universitas Sam Ratulangi, CIRAD, Coral Triangle Initiative, serta Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara. Salah satu wujud nyata dari kolaborasi ini adalah pembangunan Dormitory Wallace Conservation Likupang, yang didirikan untuk mendukung kegiatan penelitian mahasiswa dan ilmuwan di kawasan ini.
KEK Likupang juga berperan sebagai zona pendukung (supporting zone) bagi kawasan biodiversity hotspot di Tanjung Pulisan. Hal ini mencakup pengembangan habitat liar (wildlife habitat) untuk konservasi fauna endemik yang terancam punah, seperti Monyet Hitam Sulawesi (Yaki). Ada juga amphitheater, sebagai pusat kegiatan seni dan budaya, serta Kantor Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK Likupang,” urainya.
Disisi lain, pengembangan kawasan turut didukung oleh pembangunan infrastruktur dan fasilitas komersial yang signifikan. Sejumlah proyek telah beroperasi, antara lain, The Pulisan, sebagai destinasi akomodasi premium di dalam kawasan. Ada Noma, sebagai wisata alam yang menghadirkan pengalaman berkemah dan aktivitas konservasi yang terintegrasi langsung dengan lingkungan.
Lanjutnya, Pengembang juga membangun fasilitas kesehatan (Puskesmas), guna mendukung layanan medis bagi wisatawan dan komunitas sekitar, fasilitas keamanan dan keselamatan, yaitu pos pengamanan dan pemadam kebakaran untuk menciptakan kawasan yang aman dan nyaman, infrastruktur dasar yang mencakup jaringan listrik, akses jalan, pasokan air, menara telekomunikasi, dan dengan dukungan pengelolaan air bersama PJL Enviro.
Sebagai salah satu dari lima DSP bersama Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo, KEK Likupang diproyeksikan untuk menjadi tolok ukur (benchmark) global dalam pengembangan destinasi wisata berkelanjutan.
Dengan kombinasi kekayaan alam, kolaborasi konservasi, serta kesiapan infrastruktur dan investasi, KEK Likupang berada pada jalur yang kuat untuk menjadi ikon pariwisata regenerative Indonesia di kancah internasional.
Diketahui, KEK Likupang adalah kawasan strategis nasional berbasis pariwisata di Sulawesi Utara yang dikembangkan untuk mendorong investasi, konservasi, dan pertumbuhan ekonomi melalui pendekatan berkelanjutan dan regenerative tourism.(***)